Seorang musisi berusia 30 tahun bangun pagi, bukan untuk menciptakan mahakarya, tapi untuk mengecek tagihan listrik. Di usia ini, mimpi dan realitas saling bertarung seperti duel gitar antara Steve Vai dan Yngwie Malmsteen—bedanya, yang satu bawa idealisme dan satunya bawa kebutuhan hidup.
Dulu, kita percaya musik adalah jalan hidup. Sekarang? Musik adalah jalan tol dengan tarif yang terus naik.
Antara Idealisme dan Kenyataan
Saya ingat saat masih 20-an, dengan semangat membara dan dompet yang kempes, bermimpi menjadi musisi besar. "Musik adalah ekspresi! Uang? Itu hanya bonus!" kata saya dengan bangga, sambil makan mie instan untuk keempat kalinya dalam seminggu.
Tapi, seperti halnya sound system yang butuh grounding, hidup juga butuh kestabilan. Kita bisa bermusik seumur hidup, tapi kalau tidak ada pemasukan, lama-lama kita malah jadi "musisi underground" dalam arti yang sebenarnya—hidup di bawah garis kemiskinan.
Lalu, saya bertanya: Apakah lebih baik tetap mengejar idealisme atau mulai menjadi "musisi kapitalis"?
Kapitalis Musisi: Pengkhianat atau Visioner?
Mungkin kita pernah mengejek mereka yang membuat musik komersial, yang lebih peduli pada algoritma Spotify daripada progresi akor yang ‘deep’. Tapi faktanya, mereka punya rumah, asuransi, dan tidak dikejar-kejar debt collector.
Saya akhirnya sadar, kapitalisme bukan musuh. Ia adalah pedal efek yang bisa mengubah suara kita, bukan menghilangkan identitas kita. Lihat saja Hans Zimmer—dia menciptakan karya luar biasa, tapi juga tidak malu mengkomersialkan musiknya untuk Hollywood.
Menjual musik, mengajar, membuat konten, atau bahkan menjual preset dan VST—itu bukan pengkhianatan, itu strategi bertahan hidup. Kalau dulu saya berpikir musik adalah seni murni yang tak boleh dikotori uang, sekarang saya sadar, studio rekaman tak bisa dibayar dengan passion semata.
Jalan Tengah: Idealistik Tapi Realistis
Jadi, apakah kita harus membuang mimpi demi stabilitas? Tidak juga. Seperti mixing yang baik, hidup butuh keseimbangan antara frekuensi tinggi dan rendah.
Kita bisa tetap membuat karya yang kita cintai, tapi juga mencari cara agar itu menghasilkan. Jika itu berarti harus sedikit menyesuaikan dengan pasar, kenapa tidak? Yang penting, kita tetap bisa bermusik tanpa harus berdebat dengan pemilik kos tentang keterlambatan bayar sewa.
Musisi yang pintar bukan yang hanya berbakat, tapi juga tahu bagaimana bertahan di industri. Lagipula, kalau Quincy Jones bisa sukses tanpa kehilangan idealisme, kenapa kita tidak?
Jadi, quarter life crisis musisi? Itu cuma fase EQing kehidupan. Atur frekuensinya, cari keseimbangan, dan pastikan gain-nya tidak terlalu hot.