Pernahkah Anda berpikir bahwa musik sebenarnya tidak pernah diciptakan? Ya, mungkin terdengar aneh, tetapi mari kita telusuri lebih jauh. Istilah "mencipta" seharusnya merujuk pada proses membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Seperti menciptakan semesta dari kehampaan, atau menciptakan makhluk hidup dari tanah liat. Namun, musik? Musik sudah ada di alam semesta ini, hanya saja manusia yang bertugas merangkainya.
Musik: Bukan Ciptaan, Tapi Rangkaian
Coba bayangkan seorang musisi yang "menciptakan" lagu. Apakah ia benar-benar menciptakan nada dan irama dari ketiadaan? Tidak. Nada sudah ada dalam sistem frekuensi, harmoni sudah eksis dalam hukum fisika, dan ritme sudah tertanam dalam detak jantung manusia. Seorang komponis hanya merangkai semuanya menjadi satu kesatuan yang bisa dinikmati. Jadi, lebih tepatkah kalau kita menyebut mereka sebagai "perangkai" musik daripada "pencipta"?
Sujiwo Tejo, seorang budayawan dan seniman, pernah mengutarakan pemikiran serupa. Menurutnya, seorang musisi sebenarnya tidak menciptakan lagu, melainkan merangkainya dari sesuatu yang sudah ada. Musik bukanlah sesuatu yang muncul dari kehampaan, melainkan hasil dari eksplorasi nada yang telah tersedia di semesta ini. Namun, sayangnya, bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata untuk "compose" selain "mencipta". Tidak ada istilah "mengkompos" dalam arti kata kerja yang tepat menggambarkan proses merangkai musik namun kata benda "komposisi" tersedia di KBBI.
KBBI dan Absennya Kata yang Tepat
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) lebih memilih menggunakan kata "mencipta" untuk segala hal yang berhubungan dengan penciptaan lagu atau musik. Mungkin karena itulah kita terbiasa mendengar istilah "pencipta lagu" dibandingkan "pengkompos utama" karena tidak ada padanan katanya atau "perangkai nada" karena dianggap kurang tepat. Padahal, jika kita lihat dalam bahasa Inggris, istilah "compose" lebih menggambarkan tindakan menyusun atau merangkai sesuatu yang sudah ada.
Tetapi, apa daya? Tanpa adanya kata "mengkompos" atau "mengaransemen utama", para musisi di Indonesia harus puas disebut "pencipta" lagu, meskipun secara teknis mereka hanya merangkai suara yang sudah ada.
Saran untuk Para Musisi dan Akademisi Bahasa
Karena kita hidup dalam sistem yang lebih menghargai istilah "pencipta lagu", ada baiknya kita tetap menggunakan istilah ini demi kemudahan komunikasi. Namun, bagi akademisi bahasa dan musisi yang ingin lebih teliti, mungkin sudah saatnya kita mulai membahas apakah perlu ada kata baru dalam KBBI untuk menggantikan "mencipta" dalam konteks musik. Mungkin "mengkompos" bisa masuk sebagai istilah resmi?
Hingga saat itu tiba, mari kita lanjutkan menikmati musik, entah diciptakan atau hanya dirangkai. Yang jelas, tanpa musisi yang merangkai nada, dunia akan terasa lebih sepi.