31 March 2025

Komposer Sampah, Karya Sampah Berbekal AI

Dunia komposisi musik telah mencapai era emas—setidaknya bagi mereka yang berpikir bahwa seni hanyalah soal menekan tombol dan menunggu keajaiban terjadi. Dulu, untuk menjadi komposer, seseorang harus memahami harmoni, melodi, orkestrasi, dan, ya, bahkan menyentuh instrumen musik. Sekarang? Tinggal ketikkan prompt, tunggu AI bekerja, dan voila! Musik siap tayang di Spotify, Apple Music, dan segala platform yang siap mencetak uang. Siapa peduli soal musikalitas, emosi, atau ekspresi? Yang penting angka stream naik, bukan?


Musik Instan: Dari Prompt ke Streaming dalam Hitungan Menit

Seolah-olah dunia ini belum cukup penuh dengan musik instan, kini kita dibanjiri oleh karya dari komposer yang bahkan tidak tahu perbedaan antara C mayor dan A minor. Tidak mengerti time signature? Tidak masalah! AI yang akan mengurusnya. Mau membuat orkestra megah ala Hans Zimmer? Gampang! Cukup masukkan kata kunci "epic cinematic orchestral soundtrack" ke generator AI, dan Anda pun bisa menjadi "komposer." Ingin lagu pop viral? Tinggal minta AI membuat "catchy TikTok hit with danceable beats." Lalu tinggal duduk santai, tunggu royalti mengalir, dan bangga menyebut diri sebagai musisi.


Audiens Tak Lagi Butuh Musik, Hanya Noise

Yang paling menyedihkan? Audiensnya ada. Pendengar pasif yang sekadar butuh noise di latar belakang, bukan musik yang benar-benar dikomposisikan dengan jiwa. Dan para komposer instan ini tahu itu. Musik bukan lagi soal seni, melainkan sekadar algoritma untuk memanipulasi kebiasaan mendengar manusia. Semakin mudah dicerna, semakin tinggi engagement-nya. Semakin sering diputar, semakin banyak dolar yang masuk ke kantong. Cuan dulu, estetika belakangan—atau malah tidak perlu sama sekali.


Komposer Sejati vs. Mesin Pencetak Lagu

Padahal, seorang komposer sejati memahami bahwa musik adalah bahasa emosi, bukan sekadar produk digital yang dirakit tanpa pemahaman musikal. Mereka menghabiskan bertahun-tahun mempelajari teori, komposisi, dan instrumentasi, membangun suara khas yang tidak bisa direplikasi dalam hitungan detik oleh kecerdasan buatan. Tetapi di era ini, di mana orisinalitas kalah oleh kemudahan, siapa yang masih peduli? Bukankah lebih baik menghasilkan 100 track AI dalam sehari daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan menyusun satu mahakarya?


Seni Visual Juga Mengalami Nasib yang Sama

Fenomena ini tidak hanya terjadi di musik. Dunia seni visual juga mengalami hal serupa. Contohnya, ketika AI digunakan untuk mengubah foto menjadi gaya Ghibli, banyak yang menganggap itu sebagai inovasi luar biasa. Namun, pendiri Studio Ghibli sendiri mengkritik tren ini sebagai sesuatu yang kosong dan tanpa jiwa. Seni seharusnya lahir dari manusia, dari pengalaman, kesulitan, dan emosi yang nyata, bukan sekadar hasil pemrosesan algoritma yang hanya meniru tanpa memahami esensi dari seni itu sendiri. AI bisa meniru gaya, tetapi tidak bisa menciptakan makna.


Akankah Musik dan Seni Bertahan?

Selamat datang di dunia di mana seorang yang bahkan tidak tahu cara menyetel gitar bisa disebut komposer. Selamat datang di industri musik yang lebih peduli pada metrik engagement dibandingkan kualitas. Dan selamat menikmati era baru ini, di mana kebisingan digital semakin menenggelamkan suara-suara yang benar-benar berarti. Musik? Ah, siapa butuh musik. Yang penting, angka streaming naik. Sampah, kan?