Dulu, merilis musik itu ribet. Harus punya label, ada seleksi ketat, dan tentu saja harus benar-benar musisi. Sekarang? Asal ada duit, siapapun bisa rilis lagu. Mau suara fals? Bisa. Mau lagu hasil generate dari AI? Bisa. Mau suara kucing tetangga yang dikasih autotune? BISA BANGET.
Semuanya berkat agregator musik yang dengan senang hati menyalurkan segala bentuk suara ke Spotify, Apple Music, dan kawan-kawannya. Dengan modal ratusan ribu rupiah, siapa pun bisa jadi "artis" dalam semalam. Industri musik yang dulu butuh kerja keras, sekarang cuma butuh nomor rekening dan klik "submit".
Sisi Positif: Ekonomi Kreatif Jalan Terus!
Ya, tentu saja ada untungnya. Perputaran uang di sektor industri kreatif makin lancar. Agregator dapat cuan, studio rekaman murah meriah kebanjiran order, dan jasa mixing-mastering murah pun makin laris. Bahkan, AI pembuat lagu dadakan pun bisa ikut kebagian rezeki!
Makin banyak musisi independen, makin banyak orang yang berani mencoba berkarya. Siapa tahu dari ratusan ribu lagu yang dirilis setiap hari, ada satu-dua yang benar-benar berkualitas, kan?
Sisi Negatif: Sampah Digital di Mana-Mana
Sayangnya, ini juga berarti jumlah musik sampah bertambah drastis. Bayangkan scrolling playlist, berharap menemukan hidden gem, tapi yang muncul malah lagu berjudul "Aku Cinta Kamu" dengan lirik full AI yang terdengar kayak ucapan robot. Atau lagu EDM yang cuma berisi satu loop drum diulang-ulang selama 3 menit.
Belum lagi, makin banyak yang mengandalkan AI untuk bikin musik tanpa sentuhan manusia. Ini bukan lagi kreativitas, tapi produksi massal tanpa jiwa. Kalau begini terus, dalam waktu dekat kita bakal lebih sering mendengar musik buatan robot daripada musisi beneran. Gendeng.
Solusi: Kurasi Tanpa Membunuh Kreativitas
Lalu gimana? Masa kita harus membiarkan industri musik berubah jadi lautan junk music?
Salah satu solusinya: agregator bisa punya sistem kurasi. Sebelum lagu masuk ke platform digital, harus dicek dulu oleh kurator profesional. Mereka yang menentukan apakah lagu itu layak tayang atau perlu revisi biar sesuai dengan selera pasar. Dengan begitu, setidaknya yang rilis memang benar-benar punya nilai.
Tapi tunggu dulu, ini juga masalah. Kalau semua harus sesuai standar pasar, lalu di mana tempat bagi musik yang eksperimental? Musik yang memang nggak ditujukan buat laku di industri tapi tetap bernilai seni?
Mungkin solusinya, ada dua jalur: komersial dan non-komersial. Jalur komersial harus melewati kurasi ketat, sementara jalur non-komersial tetap terbuka bagi mereka yang ingin merilis karya dengan kebebasan artistik. Jadi, baik yang mau cari duit maupun yang ingin berekspresi bisa tetap berjalan berdampingan.
Yang jelas, kita butuh solusi biar dunia musik nggak kebanjiran sampah digital. Kalau nggak, masa depan musik bisa jadi lebih aneh daripada yang kita bayangkan.