Pernahkah kamu bertanya pada guru les musikmu, “Metode apa yang Anda gunakan untuk mengajar saya?” Atau selama ini kamu cuma duduk, pegang gitar, dan dibiarkan mengikuti nada tanpa tahu arah?
Saya sendiri mulai mengajar gitar sejak 2013. Waktu itu, kalau ditanya “Mas ngajarnya pakai metode apa?” aku mungkin bakal jawab “Metode... improvisasi berdasarkan mood harian?” Atau lebih jujurnya, aku juga nggak tahu.
Tapi ternyata, mengajar tanpa metode itu kayak nelpon customer service yang jawabannya selalu “Coba restart dulu, Kak.” Ya nggak salah sih, tapi nggak ada progress yang jelas juga.
Metode Itu Penting, Bukan Sekadar "Ikuti Saya"
Di Fisella®, aku nggak asal ngajarin gitar elektrik dengan metode “Lihat, tiru, ulangi.” Aku menggunakan:
- CAGED System – Biar murid tahu fretboard secara sistematis, bukan sekadar menebak-nebak.
- RDAP (Rhythmically Dependent Alternate Picking) – Teknik picking yang efisien dengan pendekatan Martin Miller, biar nggak cuma cepat, tapi juga rapi dan terkontrol.
Metode ini bukan cuma buat keren-kerenan, tapi biar setiap murid punya roadmap yang jelas. Biar nggak belajar gitar kayak Google Maps offline—jalan, tapi nggak tahu bakal sampai ke mana.
Guru yang Ngajar Tanpa Metode = GPS yang Cuma Bilang "Lurus Terus"
Kalau gurumu nggak bisa jawab metode apa yang dia pakai, ada dua kemungkinan:
- Dia ngajarin berdasarkan insting dan mood hari itu.
- Dia sendiri nggak tahu gimana sebenarnya cara dia main gitar.
Mau belajar gitar secara serius? Jangan cuma cari guru yang jago main, cari yang juga ngerti cara ngajarin. Karena kalau nggak pakai metode, ya sama aja kayak belajar matematika dengan “Pokoknya hasilnya harus 42, ya udah ikuti aja.”
Jadi, coba tanyakan ke guru les musikmu:
“Dengan metode apa Anda mengajar saya?”
Kalau jawabannya “Ya saya ngajarin pakai pengalaman saya aja”, hati-hati. Bisa jadi itu kode kalau kamu sedang diajari bukan berdasarkan metode, tapi keberuntungan.